Badminton

Gagal Lagi Rebut Piala Sudirman, Ini Komentar Legenda Badminton Indonesia

Salah satu legenda hidup bulutangkis yang terkenal dengan julukan manusia smash 100 watt, Hariyanto Arbi mengakui bahwa setelah melihat performa yang ditunjukkan oleh tim Indonesia di Piala Sudirman 2019 memang semifinal merupakan hasil maksimal, oleh sebab itu, ia berharap bahwa semua atlet bulutangkis yang terlibat dalam tim tersebut harus bersedia untuk latihan lebih keras lagi.

Seperti diketahui, bahwa pada Sabtu (25/5/2019), Indonesia kalah cukup telak dari Jepang dengan skor 1-3 di babak semifinal. Indonesia hanya mampu meraih 1 poin berkat performa gemilang yang ditunjukkan oleh ganda putra Marcus Fernaldi Gideon dan Kevin Sanjaya Sukamuljo yang sukses melibas ganda putra Jepang, Kamura/Sonoda, 2 gim langsung. Sementara itu, hasil tidak memuaskan ditunjukkan oleh 3 sektor sesudahnya, yaitu tunggal putri, tunggal putra dan ganda putri yang semuanya kalah dari wakil Jepang.

Menurut Hariyanto Arbi, sektor tunggal putra sebenarnya tidak terlalu tertinggal, secara pola permainan Ginting sudah cukup mampu mengimbangi, namun di sektor putri memang sangat terlihat jauh tertinggal, seperti dikutip dari detikSport. Menurut Arbi, meskipun terlihat menyedihkan namun ia berharap masyarakat Indonesia masih bisa bersabar, ia juga memberi contoh perkembangan bulutangkis Jepang yang membutuhkan waktu hampir 50 tahun untuk dapat ikut serta menjadi bagian dari tim elite bulutangkis dunia. Arbi juga berpendapat bahwa saat ini peta kekuatan tim Jepang memang harus diakui sangat merata di segala sektor, jadi memang cukup sulit mencari celah atau titik lemah di tim tersebut.

Meskipun demikian, Haryanto Arbi juga menegaskan bahwa sebaiknya pihak PBSI benar-benar melakukan evaluasi total terhadap penampilan dari masing-masing pemain yang ada di tim Piala Sudirman 2019 tersebut, sebab tahun ini merupakan tahun dimana terjadi pengumpulan poin untuk menentukan pemain yang akan lolos ke Olimpiade 2020. Menurut Arbi, jelang Olimpiade 2020 ini, sektor tunggal putri memang membutuhkan proses pengembangan yang masih sangat panjang dan diperlukan tekad yang sangat kuat dari para atlet bulutangkis tunggal putri itu untuk berlatih lebih keras lagi, sedangkan untuk sektor lain Arbi masih cukup yakin dan merasa empat sektor lain itu masih termasuk menjanjikan.

Berbeda dengan Haryanto Arbi yang komentarnya masih terdengar cukup lunak, legenda hidup badminton Indonesia lainnya, Rudy Hartono tak tanggung-tanggung saat berkomentar, kritikan pedas langsung ia kemukakan. Juara delapan kali All England itu menyebut bahwa Indonesia masih memiliki segudang pekerjaan rumah menyusul kembali gagalnya mereka merebut Piala Sudirman 2019. Menurut Rudy Hartono, kunci utama dari usaha menyelesaikan pekerjaan rumah tersebut terletak pada kesadaran diri dari si atlet untuk lebih giat berlatih, sedangkan untuk pelatih perlu untuk memberi dukungan dan mengingatkan beberapa hal yang kurang dari dalam diri atlet yang dilatihnya itu.